Teringat ke masa lalu

Kalender di dinding sebuah rumah di kawasan Bintaro Tangerang menunjukkan bahwa pada saat itu adalah bulan Februari, dimana menurut perhitungan astronomi, merupakan puncaknya musim hujan. Dan berita di televisipun selalu menayangkan bahwa telah terjadi banjir di mana-mana, dengan segala permasalahan yang terjadi akibat dari banjir tersebut.

Dan sore itu hari Minggu, hujan turun cukup lebat menggunyur wilayah Bintaro dan sekitarnya, hampir sebagian besar orang berdiam diri di rumah sambil menonton berita atau mendengarkan musik, di sebuah rumah tampaklah seorang laki-laki duduk diberanda, sambil memperhatikan butiran-butiran air yang jatuh menimpa dedaunan di taman rumahnya. Betapa suka citanya tanaman tersebut menyambut kehadiran butiran-butiran air hujan tersebut, seperti ketika seorang yang sedang jatuh cinta, melihat kehadiran sang pujaan hatinya telah datang untuk menemuinya.

Ketika hujan telah usai kelihatan sekali daun-daun itu segar, hijau, bersih, dan asri, mengingatkan laki-laki yang duduk diberanda rumah itu, kepada suatu tempat dimana laki-laki tersebut dilahirkan. Pikirannya kembali menerawang menembus ruang dan waktu menuju kepada suatu tempat empat puluh tahun yang lalu, dia dilahirkan ke dunia ini, suatu tempat yang sangat jauh, ribuan kilometer ke arah timur. Suatau dusun terpencil di pedalaman pulau Bali, pulau dewata yang sangat terkenal di seluruh dunia, pulau yang menjadi tujuan wisata kebanyakan orang, karena memang alamnya indah di tambah lagi adat istiadatnya yang unik dan kaya akan seni budaya. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan “ Datanglah ke Bali sebelum kehidupan ini berakhir”.

Mungkin tidak terpikirkan bahwa di pulau yang terkenal itu ada tempat yang sangat jauh dari peradaban dan kemajuan, jika dibandingkan dengan kota-kota lain di pulau Bali tersebut. Tempat itu persisnya berada di kaki Gunung Batukaru, tempat yang harus di tempuh dengan berjalan kaki kira-kira lima kilometer dengan jalan yang berliku-liku dan naik bukit turun bukit. Suatu daerah yang konturnya seperti buah belimbing yang dibelah dua, terdapat juringan-juringan yang dipisahkan oleh sungai-sungai seperti ular yang berkelok-kelok dan berhulu pada sebuah gunung yang berdiri kokoh, seperti sedang menyangga langit agar tidak runtuh, dengan warna kehijaun dan kelihatan begitu mulus seperti wajah seorang gadis remaja.

Kehidupan masyarakatnya semua petani, sehingga tidak heran jika kemanapun pandangan di arahkan maka akan terlihat sawah-sawah seperti punden berundak-undak mengikuti kontur tanah yang ada. Dari kejauhan yang kelihatan hanya hijau dan hijau, apabila musim panen di sawah tiba, maka akan kelihatan hamparan warna kuning yang diselingi oleh hutan yang tidak terlalu luas, yang ditumbuhi pohon kelapa, pohon buah-buahan dan tanaman sayur-sayuran. “Betapa suburnya tanah kelahiranku” guman laki-laki itu, bersamaan dengan kesadarannya bahwa dirinya kini berada sangat jauh, dan menjalani kehidupan yang menuntuk harus serba cepat, semua ditentukan oleh ukuran nilai, jika nilainya tinggi berarti bonus besar atau cepat naik jabatan, atau untuk anak-anak sekolah nilai bagus berarti dapat sekolah favorit, bayar uang sekolah lebih kecil dan sebagainya dan sebagainya.
Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s