lanjutan TML

Setiap orang sudah tentu memiliki masa lalu, terlepas dari baik atau buruk, yang pasti masa lalu telah mengajarkan kepada umat manusia bahwa apapun yang kita nikmati saat ini atau peristiwa apapun yang terjadi pada saat ini tidak telepas dari masa lalu. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan masa kini ada karena masa lalu, hal ini seharusnya menjadikan umat manusia yang hidup pada saat ini melakukan tindakan yang mewariskan kehidupan yang lebih baik untuk masa depan, karena masa depan adalah warisan anak cucu kita. Bagi kita biarlah masa lalu menjadi kenangan yang tak terlupakan, masa kini adalah realita, masa depan adalah harapan.

Diantara kerinduan akan kampung halaman dan hidup dilingkungan kota metropolitan, laki-laki itu mendengar lagu Ebit G. Ade, “Aku ingin pulang”dari laptop lama yang dimilikinya, dengan iringan syair lagu yang terus mengalir dan mengalir, seperti derasnya aliran sungai Ciliwung yang membelah, merendam beberapa tempat di wilayah kota Metropolitan Jakarta waktu musim hujan, laki-laki itu kembali seperti terbang menembus ruang dan waktu ke masa kecil dengan teman-temannya, masa dimana dia lewatkan dengar bermain di kebun, di sawah, mandi di pancuran atau sungai, memancing belut di pinggiran-pinggiran sawah, memancing ikan gabus atau udang di sungai, bakar ubi, atau singkong atau mencari telur ayam di kebun, karena ayam semuanya dilepas, atau kami buat jebakan untuk menangkap ayam untuk disembelih, tidak jarang suasana jadi gaduh karena ayam tidak berhasil dijebak, akhirnya kami rame-rame berusaha menangkap kejar sana, kejar sini, ayam berhamburan bercampur dengan teriakan-teriakan dan tawa ria, karena banyak hal-hal yang lucu, ada yang terpeset, ada yang jatuh, tidak jarang ayam itu kabur terbang ke hutan, sawah atau kebun. Kalau orang Jakarta lihat pasti udah bilang “caapek deeeeh”.

Sangat berbeda dengan anak-anak di kota besar, yang tidak pernah sepi oleh berbagai macam hiburan dan fasilitas, banyak mall, ada televisi, pakaian bagus-bagus, punya sepeda, kalau pingin sesuatu tinggal tunjuk dan panggil Bapak\Ibu, Papi\Mami, Ayah\Bunda, Om\Tante, Dedy\Mami, Babe\Nyak seperti bos aja, “pikir laki-laki itu”, ketika ada abang jualan lewat entah itu jual balon, siomay, roti, bakso, atau pingin naik odong-odong, bahkan tidak jarang mereka ngambek, menangis jika keinginannya tidak dituruti. Untuk kalangan elit lain lagi ceritanya liburan mereka aja ke Singapur, Amrik, Taiwan, pokoke yang ada luar-luarnya gitu deh atau liburan ke Bali, Bali? Teriak laki-laki itu, tanpa sadar teriakan itu telah menyadarkannya, laki-laki itu tersenyum dengan kepala miring sambil mengangkat bahu dan tangan terbuka ke depan.

Kehidupan di dusun itu sangat sederhana, rumah-rumah dengan kayu, dinding bambu diayam dan beratapkan ilalang-ilalang kering, jika ditiup angin ada daun yang melambai-lambai seperti ucapan selamat datang atau selamat jalan, kehidupannya berkelompok, biasanya sesuai kekerabatan, jarak antara satu kelompok dipisahakan oleh sawah atau ladang atau sungai, penerangan untuk malam hari digunakan lampu sentir dengan bahan bakar minyak tanah, atau dengan obor, kalau ada kegiatan di malam hari biasanya digunakanlah lampu petromak, agar lebih terang, dan itupun bagi yang punya.

Bersambung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s