Mohamad Sobary

Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya—maksudnya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW—dari Masjidil Haram (di Mekkah) ke Masjidil Aqsa (di Palestina). Momentum besar ini terjadi pada malam hari dan kita peringati sebagai bagian permulaan sejarah Islam. Kita pun menyebutnya dalam nyanyian Isra’ dan Mi’raj yang kita nyanyikan dengan khusyuk dan penuh kehormatan, sebagai “malam suci, malam yang selalu diperingati”.

Ini nyanyian pada masa kanak-kanak dulu, tetapi hingga kini saya masih selalu bersenandung di dalam hati sambil meresapkan kembali keagungan malam itu ketika Rasulullah SAW memulai perjalanannya dengan shalat dua rakaat di Masjidil Haram dan setiba di Masjidil Aqsa shalat dua rakaat lagi, dengan kekhusyukan tingkat Nabi yang demikian total, bagaikan pertemuan dua kekasih yang saling merindukan.
Masjid, rumah Allah, tempat kedamaian. Kita menyebutnya tempat yang penuh berkah, bagaikan sekeping surga di Bumi. Di sini kita betah duduk, berdoa, ber-munajad, bersyukur, dengan kedalaman jiwa yang tulus, dan penuh damai, sambil tak lupa memelihara kedamaian orang lain yang tinggal di sekitar masjid.
Tiap saat kita sowan ke rumah Allah, kita menggunakan adab sebagaimana layaknya tamu terhormat. Jadi, tak perlu berteriak, apa lagi jejeritan. Anak-anak—namanya juga masih anak-anak—boleh saja berisik di sana. Tetapi, pantaskah orang dewasa berbuat begitu? Apalagi pada malam hari saat orang lain sedang nyenyak tidur. Tak pantas mereka diganggu.
Patut diingat, mereka yang di rumah juga berhak merasa damai. Maka, janganlah kedamaian mereka kita koyak. Jangan beri orang lain kesempatan merasa antipati kepada kita. Bila mereka kita hormati, mereka pun akan membalas dengan kehormatan lebih besar.
Takbiran, tahlilan, salawatan, membaca ayat-ayat Allah, juga azan, hendaknya dengan suara lembut. Dan, bila kita memang hendak berbicara dengan bahasa hati, pilihan suara kita harus suara lembut.
Kelembutan itu membuat apa pun yang kita baca meresap di hati kita dan hati mereka yang mendengar. Jangan lupa, yang tak datang ke masjid pun ada pula yang sedang berzikir dengan khusyuk. Di luar masjid ada pula hamba-hamba yang mencoba lebih saleh dan karena itu mereka pun memerlukan suasana hati yang jauh dari kebisingan dan polusi suara.
Pendeknya, mereka pantas dihormati. Lagi pula, syiar Islam tak perlu berteriak keras. Syiar dengan kelembutan justru menimbulkan rasa simpati dari pihak lain yang tak hadir di masjid.
Abu Bakar tergetar jiwanya dan musuh besar Nabi itu tiba-tiba menyatakan “takluk” dan masuk Islam setelah mendengar ayat-ayat Allah dibaca dengan kesyahduan yang dalam, bukan dengan berteriak. Dan, Fuzail, raja perampok yang sedang berusaha merampok sebuah rumah, tiba-tiba merasa bagaikan kena pesona dan kontan menggigil ketika mendengar suara lembut orang membaca Al Quran. Dia kemudian menjadi salah seorang “raja” di dunia kaum sufi.
Adab yang kita jaga untuk diri sendiri bisa memiliki dampak sosial lebih besar di hati orang lain. Diam-diam adab ternyata juga mampu membentuk kekuatan sosial untuk membangun kebersamaan dengan cinta dan kehormatan.
Lalu serempak dari masjid ke masjid semua kidung rohani bermetamorfosis menjadi solidaritas sosial yang bisa diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi riil dan hidup kita membaik.
Betapa mulianya kita bila di semua bagian dalam masyarakat kecenderungan ini kita kelola dengan baik dan terfokus untuk mengubah tata hidup sosial, politik, dan kebudayaan kita.
Namun, kita telah menyia-nyiakan potensi besar bangsa dan membiarkan keburukan demi keburukan berlangsung terus di depan hidung kita setiap detik, setiap menit, setiap jam dalam hari-hari yang panjang dalam hidup kita. Kita abaikan tata kelola masjid—governance—yang baik dan kita biarkan abad demi abad lewat dan meninggalkan kita dalam kemiskinan dan keterbelakangan.
Kita tak bisa mengapitalisasikan kekuatan budaya kita untuk mengubah hidup dan mengatasi masalah bangsa. Momentum demi momentum kita lewatkan tanpa jejak apa pun dalam hidup kita.
Lalu, setiap hari kita menyalahkan orang lain. DPR menuding pemerintah. Media sibuk memberitakan hanya apa yang bisa membikin publik cemas dan jarang melihat barang baik yang dijadikan berita baik. Pembaca yang membayar dibiarkan tak memperoleh setetes pun harapan masa depan.
Sekarang ini apa yang disebut civil society itu luar biasa garangnya. Di mata mereka tak ada pihak yang patut dihormati. Semua pihak dicerca dalam demo-demo. Juga lewat media.
Kita lupa, pengorganisasian kehidupan civil society kita pun tidak transparan dan masih cenderung elitis. Di Masjid Agung Baiturrahman, Banda Aceh, saya kaget melihat tampilnya “birokrasi” yang tak mencerminkan kemerdekaan Islam.
Pada saf terdepan, ditulis untuk wali kota, kepala kejaksaan tinggi, ketua pengadilan tinggi, Rektor IAIN, Pangdam Iskandar Muda, Kepala Polda, Ketua DPRD, Wakil Gubernur, Gubernur, imam besar, imam pengganti, khatib, protokol, operator. Di saf kedua tempat qari, muazin pengganti, dan muazin, tempatnya persis di depan corong.
Saya tak berani lama-lama di situ, siapa tahu ada operasi status sosial untuk menempatkan orang sesuai jabatannya. Di sana saya lupa bahwa saya ada di masjid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s