Porf. DR. Roy Sembel

HUKUM KEBERHASILAN
Pemilihan Umum tinggal menghitung hari, Para pendukung setiap calon tentunya ingin agar pasangan calon yang didukungnya berhasil mendapat suara terbaik. Intinya, tak ada yang ingin rugi. Setiap orang pasti ingin berhasil. Ternyata, keberhasilan ada hukumnya, yang jika dipatuhi, akan menarik keberhasilan tersebut. Simak yang berikut ini.

Hukum Ingin Perbaikan (Law of Desire for Improvement) . Tony berhasil lulus ujian. Tina berhasil lolos menjadi penerima beasiswa belajar keluar negeri. Andi berhasil Sebuah keberhasilan tercipta karena ada rasa tantangan untuk maju. Kerhasilan baru terasa ketika terjadi perubahan ke arah perbaikan. Jadi, orang yang sudah puas diri dengan apa yang ia miliki, tidak akan pernah mau mencoba untuk berhasil. Sebagai ilustrasi, jika Tony sudah puas berada di bangku SD kelas 6 saja, maka ia tidak perlu ikut ujian agar bisa lulus ke jenjang yang lebih tinggi. Demikian pula dengan Tina. Jika ia sudah puas dengan kenyataan bahwa orang tuanya tidak bisa lagi menyekolahkannya ke perguruan tinggi, ia tidak perlu lagi mencoba untuk berkompetisi mendapatkan beasiswa. Jadi, dimana ada ketidakpuasan, pasti ada peluang untuk mencetak keberhasilan. Jadi, jika Anda sudah teralalu lama merasa puas pada satu kondisi atau posisi, berhati-hatilah.
Kemungkinan besar Anda tidak akan terdorong untuk mencoba meraih keberhasilan lainnya.

Hukum Keunggulan (Law of Excellence). Orang yang berhasil adalah orang yang bisa tampil unggul dalam apapun yang dikerjakannya. Coba kita perhatikan orang-orang yang berhasil di sekitar kita, pasti mereka masing-masing memiliki keunggulan yang unik. Misalnya, para pemenang medali emas dalam sebuah pertandingan olah raga, memiliki keunggulan waktu, kekuatan ataupun keterampilan dibandingkan lawan mereka. Barang dagangan yang laku dipasar, pasti juga memiliki keunggulan sehingga dibeli orang. Demikian pula dengan mereka yang berkiprah dibidang hiburan seperti, Oprah Winfrey, sang ratu talkshow. Ia memiliki keunggulan untuk mempesona para penonton. Ia menganggap penonton sebagai sahabat yang perlu diberi harapan, dihibur, dan dibuat nyaman dengan tayangannya yang memberi energi positif bagi para penonton. Keunggulan ini tentu saja perlu dipupuk. Jika kita belum memiliki keunggulan, pastikan kita bersedia berinvestasi waktu, pikiran, dan mungkin juga uang untuk mendapatkan keunggulan tersebut. Keunggulan bisa berupa informasi, pengetahuan, ataupun keterampilan yang unik dengan kualitas yang prima. Keunggulan bisa juga berupa keunggulan dalam waktu, ruang, tempat, ataupun sarana.

Hukum Harapan (Law of Hope). Satu lagi hukum penting dalam meraih keberhasilan adalah hukum harapan. Orang yang berhasil adalah mereka yang selalu memiliki harapan untuk sukses. Selama harapan itu ada, kemungkinan untuk berhasil terbuka lebar di depan mata. Bukan berarti seorang yang berhasil tidak pernah gagal. Yang ada hanyalah orang yang berhenti berharap dan berusaha untuk meraih keberhasilan. Seperti juga yang dialami Winston Churchil dan Abraham Lincoln, dua negarawan dari negara yang berbeda yang akhirnya mampu menduduki puncak tertinggi pimpinan di negara masing-masing. Keduanya mengalami berbagai kekalahan dalam pemilihan baik di tingkat daerah, provinsi maupun negara. Tetapi, mereka menolak untuk berputusasa. Mereka terus memupuk harapan untuk sukses, sampai akhirnya
kesuksesan tersebut berhasil mereka cicipi. Jadi, selama masih ada harapan, pasti ada kemungkinan untuk sukses. Bahkan, sebuah harapan menentukan apakah seorang manusia masih layak hidup atau tidak. Jika sudah tidak ada harapan, tidak ada alasan lagi untuk terus berjuang. Nah, tetaplah pupuk harapan Anda untuk mendapatkan apapun yang ingin Anda wujudkan.

Hukum Jaringan (Law of Network). Kita hidup tidak sendirian. Kita dikelilingi oleh banyak orang: keluarga, tetangga, kerabat, teman sekolah, teman kantor, murid, guru, atasan, bawahan, pelanggan, distributor bahkan kenalan yang kita temui di jalan. Jika kita bisa membuat jaringan yang menghubungkan kita dengan orang-orang sekitar kita, sehingga mereka bisa bersama-sama `terikat’ dalam satu tujuan untuk membantu kita meraih keberhasilan, maka kemungkinan untuk kita berhasil menjadi lebih besar dan masa pencapaian keberhasilan juga menjadi lebih pendek. Mahatma Gandhi tak mungkin membuka mata dunia akan perlunya melawan ketidakadilan dan kekerasan, dengan kelemahlembutan dan kebijaksanaan jika ia hanya berjuang sendirian.
Untuk itulah ia menggalang jaringan pendukung untuk bersama-sama saling menguatkan dan saling mendorong untuk menyuarakan anti-kekerasan dalam melawan ketidakadilan dan menyuarakan tuntutan untuk persamaan hak bagi tiap warga negera. Hal yang sama dilakukan pula oleh Martin Luther King Jr. dan Ibu Kartini. Mereka yang bergerak dibidang usahapun demikian. Sam Walton yang sukses mendirikan jaringan pertokoan serba ada `Wal Mart’ akan sulit meraih keberhasilan dengan cepat tanpa dorongan keluarga, dan bantuan para staf dan karyawan yang direkrutnya. Untuk itulah, ia selalu berusaha memberdayakan para staf dan karyawan dengan menjalin komunikasi hangat. Ia mengunjungi mereka pada waktu pengunjung ramai, memberi contoh bagaimana menyapa dan melayani pengunjung, serta berdiskusi dan meminta pendapat mereka untuk meningkatkan kesuksesan `Walmart’.

Hukum Memberi (Law of Giving). Yang unik adalah hukum yang berikut ini. Jika kita selama ini berpikir bahwa dengan memberi berarti kita menjadi lebih `miskin’ dari sebelumnya, ternyata tidak demikian yang terjadi. Justru dengan memberi, kita menjadi lebih kaya? Memang mungkin untuk jangka pendek sekali, jika kita punya uang Rp. 100.000, dan kita beri Rp. 10.000 pada orang lain, maka uang kita saat ini adalah Rp. 90.000. Tetapi, yang kita tidak tahu, bisa saja seminggu kemudian uang kita menjadi dua bahkan tiga atau sepuluh kali lipat. Bagaimana bisa demikian? Berikut adalah lustrasinya: Bu Tarmi, penjual bakso di depan sebuah sekolah, sering memberikan tambahan satu bakso, atau tambahan mie pada para pembeli kecilnya (anak-anak SD). Ternyata, `pemberian’ Bu Tarmi membuat para pembeli menjadi setia, bahkan para pembeli membawa banyak pembeli lainnya untuk menjadi pelanggan Bu Tarmi. Akhirnya dalam waktu yang relatif singkat, pesaing Bu Tarmi satu persatu mundur, sampai pada suatu saat Bu Tarmi menjadi satu-satunya penjual bakso di sekolah itu. Setelah para siswa luluspun, mereka masih sering mampir untuk membeli bakso Bu Tarmi. Bayangkan apa yang terjadi jika Bu Tarmi tidak mempraktekan `hukum memberi’? Mungkin sudah lama Bu Tarmi
pensiun berjualan Bakso.

Hukum Fokus (Law of Focus). Satu hukum lagi yang patut diterapkan adalah Hukum Fokus. Artinya, jika kita enginginkan sesuatu, fokuskan semua usaha, tenaga, pikiran dan sumber daya kita untuk fokus meraih apa yang kita inginkan, maka seluruh semesta alam akan mendukung. Semesta alam yang dimaksud disini adalah dari keluarga, kerabat, teman, masyarakat, sampai Yang Maha Kuasa, pasti akan mendukung. Hukum ini sudah dipraktekkan oleh Bp. Yohanes Surya, bahkan ia sudah menuliskannya dalam sebuah buku yang tidak boleh sampai tidak dibaca yaitu `Mestakung’ (semesta mendukung). Menurut Pak Yohanes, jika kita `sangat’ menginginkan sesuatu, maka gairah kita, pikiran kita, dan kekuatan kita untuk meraih hal tersebut akan memancarkan energi yang dapat menggerakkan kita untuk bertindak, dan yang lebih mengherankan, kefokusan kita pada keinginan yang mendalam itu akan menumbukan energi yang memiliki kekuatan untuk menarik orang lain untuk mendukung kita. Pak Yohanes mengambil contoh penerapan hukum fokus ini pada keterlibatan Indonesia pertama kali di Olimpiade Fisika tingkat Dunia di Amerika. Pak Yohanes begitu menginginkan putra-putri bangsa untuk ikut unjuk gigi di pentas dunia olimpiade fisika, sampai akhirnya kefokusannya dalam pikiran, tenaga dan sumber daya berhasil menarik para mahasiswa Amerika ketika itu dan beberapa pejabat negera untuk membantu keberangkatan para siswa-siswi terbaik kita untuk ikut bertanding. Banyak tantangan yang dilalui, tetapi penerapan hukum fokus ini tidak melihat tantangan sebagi sebuah akhir, melainkan pandangan akan lebih terfokus ke keberhasilan yang melampaui semua tantangan. Saat ini kita sudah bisa melihat hasilnya: Tim Olimpiade Fisika ndonesia sudah berhasil meraih banyak medali, termasuk medali emas.

Hukum Solusi (Law of Solution). Mereka yang berhasil adalah mereka yang keberadaannya merupakan solusi bagi masalah yang ada disekitar mereka. Bill Gates memberikan solusi menggunakan PC yang ringan dan murah, dengan sistem operasional yang user-friendly serta cepat. Pencipta Google memberikan solusi mendapatkan akses informasi yang tak terbatas. Anita Roddick menawarkan solusi kosmetik yang ramah lingkungan dan hewan (tidak memanfaatkan hasil percobaan pada hewan). Michael Capellas, mantan CEO Compaq dan Compaq HP, serta WorldCom, selalu membawa solusi bagi perusahaan yang dipimpinnya. Ia berhasil mengubah perusahaan tersebut dari posisi merugi atau hampir bankrut sampai ke posisi menguntungkan bahkan meraih posisi yang terhormat di kancah persaingan di industri terkait. Jadi, pastikan bahwa kita adalah bagian dari solusi bukannya bagian dari masalah. Jika ada masalah, jangan lari. Setiap masalah pasti ada solusinya. Masalah merupakan tantangan yang jika dikelola dengan cerdas dan bijak bisa memberikan peluang bagi kita untuk menemukan solusi. Untuk menemukan solusi, kita bisa belajar dari masalah orang lain, dan meramunya dengan pengetahuan, pengalaman serta keterampilan kita untuk mendapatkan solusi dengan kualitas yang lebih baik dan hasil yang lebih cemerlang.

Apa yang menjadi mimpi Anda selama ini? Apa yang ingin Anda `gol’kan agar berhasil? Pastikan Anda menerapkan ketujuh hukum keberhasilan yang baru saja dibahas. Yang pasti, siapapun yang menang menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, pastilah yang paling banyak mendapat dukungan, paling banyak menawarkan solusi, paling banyak memberi, dan paling banyak dianggap memiliki keunggulan, serta memiliki harapan.
Selamat memilih, selamat menerapkan hukum keberhasilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s