Antara realitas dan harapan

Bintaro 22 Januari 2012 minggu pagi, aku duduk sendiri di beranda rumahku dengan ditemani musik country dan netbook, ku coba meletakkan jemari tanganku di atas keyboard dan mencoba menuangkan apa yang ada dalam pikiranku. Dalam kesendirianku (anak dan istriku pergi untuk melakukan kewajiban yang sudah didoktrinkan secara turun temurun), pikiranku terbang ke negeri antar berantah, yang penuh kedamain, kesejahtraan dan kemerdekaan.
Kedamian, dalam arti luas bagaimana setiap manusia yang ada dapat hidup berdampingan dalam perbedaan tanpa ada rasa curiga, tanpa ada rasa kuatir kehilangan, ketika menaruh kendaraan di luar rumah, atau ketika anak pergi/pulang sekolah. Yang ada setiap orang fokus pada karya yang mengarah kepada peningkatkan taraf hidup dan kualitas hidup, dengan tidak menutup peluang seseorang menjadi kaya secara materi maupun kaya hati. Dan yang terpenting setiap pribadi, menyadari bahwa dirinya adalah mahluk social, yang membutuhkan orang lain, sehingga kebersamaan dan kekeluargaan tetap terjaga. Tidak seperti saat ini, ketika bangun pagi dan menyalakan TV yang diberitakan sebagian besar tentang kematian, pertengkaran, tawuran, korupsi, kejahatan, permusuhan, narkoba, perampokan, kekerasan, hal-hal negative, sampai kapan Negara ini terbebas dari hal-hal tersebut!. Jawabannya entah sampai kapan, kalau merilis lagu E Biet G.D. Tanya saja pada rumput yang bergoyang, artinya tidak ada yang tahu, atau bahkan tidak akan pernah berakhir. Dalam arti sempit setiap pribadi terbebas dari ketakukan-ketakukan dan kekuatiran-kekuatiran.
Kesejahtraan, bagaimana setiap pribadi dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat hidup sesuai fungsinya, contohnya seorang bapak/ayah berfungsi seperti seorang ayah, anak berfungsi seperti seorang anak, abdi Negara berfungsi sebagai andi Negara, seorang manajer berfungsi seperti seorang manager, seorang pemimpin berfungsi seperti seorang pemimpin. Yang terjadi saat ini, orang tua melakukan kekerasan pada anak, anak melawan orang tua, yang lebih parah lagi saat ini andi Negara bukan lagi sebagai abdi masyarakat, yang mengusahakan kemakmuran dan kesejahtraan bagi rakyatnya tetapi memperkaya dirinya sendiri, melupakan fungsinya. Abdi Negara lebih kepada profesi, dimana yang namanya profesi itu lebih kepada kepentingan pribadi, contohnya anda berprofesi sebagai seorang karyawan, maka cenderung yang dikerjakan sebatas pada tugas, tidak berpikir untuk membantu orang lain. Abdi Negara saat ini hanya berpikir untuk dirinya sendiri, satu diantara banyak contoh jalan yang merupakan sarana public berlubang-lubang, entah berapa banyak nyawa melayang terutama pemakai sepeda motor, angkutan umum, bahkan dibeberapa tempat anak-anak harus bertaruh nyawa untuk bersekolah, kenapa tidak diperbaiki?, jawabanya tidak ada anggaran, luaaaaaaaaaaaaaar biasa, ironis memang. Negara yang dalam syair lagu Koes Plus dikatakan bukan lautan hanya kolam cucu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai dan topan kau temui, tongkat dan batu jadi tanaman, jangan diartikan secara teks book, maka kita akan tahu betapa Tuhan menciptakan bangsa dan Negara ini bigitu kaya raya, untuk siapakah semua itu? Atau jangan-jangan itu semua milik bangsa lain.
Kemerdekaan, yaitu merdeka dalam berpikir, merdeka dalam berusaha, merdeka dalam berinovasi, merdeka dalam bekerja, merdeka dalam menempuh pendidikan, merdeka dalam meyakini keyakinannya, merdeka dalam hidup bermasyarakat. Yang terjadi justru hal-hal menimbulkan ketakukan, keresahan, dengan adanya kelompok-kelompok yang merasa paling benar, paling berhak sehingga berhak untuk mengilangkan nyawa orang, mengusir orang, menghakimi bukan berdasarkan hukum, tetapi berdasarkan pada aturan-aturan yang terdapat dalam kelompok tersebut. Menyedihkan memang, sudah puluhan tahun merdeka, tetapi kemerdekaan ini hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang.
Tersadar dari lamunanku, ternyata sudah siang dan perut ini sudah berbunyi minta di isi, dari semua lamunanku itu ada tiga hal yang menjadi factor utama penyebabnya yaitu 3 K (Kemiskinan, kebodohan, dan kemunafikan).
Kemiskinan telah mengakibatkan banyak orang untuk makan 3 kali saja susah, kita pasti pernah merasakan bagaimana kalau urusan perut tidak terpenuhi, mudah emosi, mudah marah, mudah terprovokasi. Kesenjangan social yang begitu tinggi di Negara ini mengakibatkan kehidupan seperti sekarang ini, angka kejahatan begitu tinggi, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemiskinan juga telah mengakibatkan banyak anak negeri ini yang putus sekolah, dalam era ICT penguasaan ilmu pengetahuan sangat penting, di negeri ini dapat dihitung berapa persen orang-orang yang sukses tanpa pendidikan. Itu artinya betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, karena dapat merubah paradigma seseorang, dengan wawasan yang semakin luas, semakin bijak, dan tidak berkaca mata kuda.
Kebodohan, karena tidak berpendidikan dan tidak menguasai ilmu pengetahuan, maka sangat mudah untuk dipermainkan, dihasut, dan didoktrin untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kemanusian. Orang-orang yang menguasai ilmu pengetahuan justru memanfaatkan kobodohan sebagai media untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok /golongan.
Kemunafikan, kalau kita perhatikan dan analisa betapa religiusnya bangsa ini, itu artinya kita semua percaya bahwa Tuahan yang Maha Esa menciptakan kehidupan ini untuk semua mahluk, dan bagi manusia semuanya diberikan organ tubuh yang sama, yang membedakan hanya porsinya atau cetakannya yang beda, ada yang lebih cantik, lebih ganteng, lebih gemuk dsb pasti tahulah kita semua, diluar itu disebut tidak normal. Setiap kita diajarkan untuk saling mengasihi, saling menyayangi, menghargai satu dengan yang lainnya, tapi apa yang terjadi di Negara ini, sesama anak bangsa saling tikam, saling usir, saling curigai, saling hujat, dsb. Kemana nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh para leluhur, satu diantaranya Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrue itu!, kemana? Kemana? (kayak ayu ting ting aja). Ketika kita dilahirkan kita tidak dapat memilih, kenapa sekarang kita mengharuskan suatu pilihan kepada orang lain, bukankah hidup ini sebuah pilihan. Ini juga bermakna Tuhan saja menciptakan perbedaan kenapa manusia tidak menghargainya?. Kenapa? Saya sering mendengar ungkapan bahwa TUHAN TIDAK MERUBAH NASIB SESEORANG KALAU BUKAN ORANG ITU YANG MERUBAHNYA, maknanya semuanya ditentukan oleh pribadi masing-masing, factor external hanya sarana/pemicu/trigger. Bahkan kalau dari ungkapan itu kita pahami, Tuhan saja tidak ikut campur, karena apa? Karena manusia telah diciptkan sebagai mahluk yang paling sempurna, dapat berpikir, bertindak, berbicara, disediakan lingkungan alam, ilmu pengetahuan, bahkan pasangan hiduppun disiapkan, kalau ngak ada pasangannya, itu adalah sebuah pilihan.
Pada akhirnya, apapun yang terjadi di dalam kehidupan kita ini tidak lepas dari Hukum Karmapala, atau hukum kekekalan energy, atau hukum sebab akibat, alam ini mengkalkulasi dengan sempurna setiap peristiwa. Jadikan masa lalu sebagai mailstone, untuk masa depan yang lebih baik, dan lakukan apa yang seharusnya anda lakukan saat ini, karena dengan berjalannya waktu hari ini akan menjadi hari kemarin/masa lalu, yang artinya kita tidak akan bisa mengulanginya lagi.
Never give up, keep fighting and good luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s